Tawasul, Mujahadah dan Istighotsah Featured

Ilustrasi berdoa Ilustrasi berdoa

1. Tawasul
Tawasul merupakan aktivitas mengambil wasilah atau sarana atau perantara agar doa atau ibadahnya dapat diterima dan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla.

Al wasilah menurut bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu, bentuk jamaknya adalah wasail (Ibnul Atsir, An-Nihayah fil Gharibil Hadis wal Atsar, 1421 H, Arab Saudi, Daru Ibnul Jauzi, halaman 185).

Sedangkan menurut istilah syariat, al wasilah yang diperintahkan dalam Al Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Azza Wa Jalla.

Yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan (Ath Thabari, Tafsir Ath Thabari, 1992, Beirut, Dar al Kutub Al Ilmiyyah, halaman 567 dan Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, 2012, Beirut, Dar Al Kutub Al-Ilmiyah, halaman 103).

Dengan kata lain, tawasul dalam tinjauan bahasa (terminologi) bermakna mendekatkan diri. Sementara menurut istilah (etimologi) bermakna pendekatan diri kepada Allah Subhanahu Wata ’Ala dengan wasilah (media atau perantara).

Baik dengan amal salih, nama dan sifat-Nya, atau pun zat dan jah (derajat/kehormatan) orang salih, misalnya para nabi, para wali, para ulama, orang ’alim alamah, anak-anak yatim, piatu, fakir miskin, dan lainnya (Wazarah Al Auqof, Al-Mausu’ah Al Fiqhiyah, 1983, Kuwait, Wazarah Al-Auqof, halaman 149-150 dan Yususf Khattar Muhammad, Al Mausu’ah Al Yusufiyah, 1999, Damaskus: Nadr, halaman 81).

Mayoritas ulama mengakui secara mutlak bawah tawasul melalui orang-orang salihin adalah sesuai syariat Islam. Adapun dalil yang memperkuat tawasul adalah firman Allah Azza Wa Jalla sebagai berikut;

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah carilah perantara (wasilah) mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian bahagia” (QS. Al Maidah 35)

Kata الْوَسِيْلَة (perantara, sarana, media) dalam ayat di atas jika ditinjau dengan disiplin ilmu ushul fiqih termasuk kata ‘amm (umum), sehingga mencakup berbagai macam perantara.

Kata al wasilah ini berarti setiap hal yang Allah Azza Wa Jalla jadikan sebab kedekatan kepada-Nya dan sebagai media dalam pemenuhan kebutuhan dari-Nya.

Prinsip sesuatu dapat dijadikan wasilah adalah sesuatu yang diberikan kedudukan dan kemuliaan oleh Allah Azza Wa Jalla.

Karenanya, wasilah yang dimaksud dalam ayat ini mencakup berbagai model wasilah, baik berupa para nabi, wali, orang salihin, atau anak-anak yatim sepanjang hidup atau wasilah lain, seperti amal salih, derajat agung para nabi dan wali, dan sebagainya (Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki, Mafahim Yajib ‘An Tushahhah, 118).

Hadis tawasul dengan orang salih yang masih hidup disebutkan dalam kitab hadis shahih Imam Bukhari (Imam Bukhari, shahih Bukhari, 1987, Beirut, Dar Ibn Katsir, halaman 99) sebagai berikut;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Umar bin Khatthab Radliyallahu ‘Anhu ketika masyarakat tertimpa paceklik dia meminta hujan kepada Allah Azza Wa Jalla dengan wasilah Abbas bin Abdul Mutthalib, dia berdoa: Ya Allah! Dulu kami bertawasul kepada-Mu dengan perantara nabi kami (Sayyidina Muhammad), lalu kami diberi hujan. Kini kami bertawasul kepadamu dengan perantara paman nabi kami, berikanlah kami hujan”. Perawi hadis mengatakan: “Mereka pun diberi hujan” (HR. Imam Bukhari)

Dari hadis di atas, jelas sekali bahwa Sayyidina Umar Radliyallahu ‘Anhu memohon kepada Allah Azza Wa Jalla dengan wasilah Abbas, paman Rasulullah padahal sayyidina Umar lebih utama dari Abbas dan dapat memohon kepada Allah Azza Wa Jalla tanpa wasilah. Dengan demikian tawasul dengan orang shalih yang masih hidup diperbolehkan dibenarkan dalam syariat (masyru’iyyah).

2. Mujahadah 
Pengertian mujahadah an nafs secara bahasa artinya bersungguh-sungguh sedangkan an nafs artinya jiwa, nafsu, diri. Jadi mujahadah an nafs artinya perjuangan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu atau bersungguh-sungguh menghindari perbuatan yang melanggar hukum-hukum Allah Azza Wa Jalla.

Macam-macam Nafsu

Menurut Al Qur’an nafsu dibagi menjadi tiga, yaitu;
1). Nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang mendorong manusia kepada keburukan (QS. Yusuf 53)

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (QS. Yusuf 53)

2) Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang menyesali setiap perbuatan buruk (QS. Al Qiyamah 2)

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (QS. Al Qiyamah 2)

3) Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang tenang (QS. Al Fajr 27-28)

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” (QS. Al Fajr 27-28)

Dalil Mujahadah An Nafs

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Anfal 72)

Pelaksanaan mujahadah an nafs dalam keseharian antara lain menunaikan salat lima waktu tepat pada waktunya, menunaikan salat berjamaah, mendirikan salat dengan khusyuk, membayar zakat mal (harta), membayar dam (denda), berbuat baik kepada orang tua (baik yang masih hidup atau sudah meninggal), menjadi rahmat di lingkungan tempat tinggalnya, membersihkan hati dari rasa sombong/riya/dendam/dengki, berbagi dengan anak-anak yatim piatu/fakir miskin/dhuafa, dan amal salih lainnya sesuai syariat Islam.

3. Istighotsah

Istighotsah merupakan susunan (wazn) istif’aal (اِسْتِفْعَال) dari kata al ghauts (الغَوْث) yang berarti pertolongan. Salah satu fungsinya adalah menunjukkan arti طَلَبٌ (permintaan atau permohonan).

Seperti kata غُفْرَان yang berarti ampunan, ketika diikutkan pola istif’al (اِسْتِفْعَال) menjadi istighfar (اسْتِغْفَار) artinya menjadi memohon ampunan.

Jadi istighotsah berarti thalab al ghauts (طَلَبُ الغَوْثِ) yang artinya meminta dan memohon pertolongan. Para ulama membedakan antara istighotsah dengan isti’anah meskipun secara kebahasaan makna istighotsah dan isti’anah kurang lebih sama.

Karena isti’anah juga mengikuti susunan istif’aal (اِسْتِفْعَال) dari kata al ‘aun (العَوْن) yang berarti thalab al ‘aun (طَلَبُ الْعَوْنِ) yang artinya meminta pertolongan.

Istighotsah adalah طَلَبُ الغَوْثِ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالضِّيْقِ meminta pertolongan kepada Allah Azza Wa Jalla ketika dalam keadaan sukar/sangat sulit/kepayahan/kesusahan.

Sedangkan isti’anah maknanya lebih luas dan umum. Allah Azza Wa Jalla berfirman: وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ maknanya: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat” (QS. Al Baqarah 45).

Pertama, istighotsah kepada Allah Azza Wa Jalla ada dalam surat Al Anfal ayat 9:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ yang artinya:

“(Ingatlah wahai Muhammad) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.

Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memohon bantuan kepada Allah Azza Wa Jalla.

Saat itu beliau berada di tengah berkecamuknya perang badar di mana kekuatan musuh tiga kali lipat lebih besar dari pasukan Islam.

Kemudian Allah Azza Wa Jalla mengabulkan permohonan nabi dengan memberi bantuan pasukan tambahan berupa seribu pasukan malaikat.

Dalam Al Qur‘an surat Al Ahqaf ayat 17 juga disebutkan: وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ yang artinya:

“Kedua orang tua memohon pertolongan kepada Allah”.

Yang dalam hal ini, memohon pertolongan Allah Azza Wa Jalla atas kedurhakaan sang anak dan keengganannya meyakini hari kebangkitan dan tidak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh keduanya untuk menyadarkan sang anak kecuali memohon pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Firman Allah Azza Wa Jalla;

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Yunus 106-107).

Ayat di atas menunjukkan bahwa pada hakikatnya setiap bencana dan musibah yang bisa menghilangkan adalah Allah Azza Wa Jalla semata.

Jika ada suatu perkara bisa dihilangkan oleh makhluk dalam perkara yang dia mampu maka itu hanyalah sebab saja. Namun hakikatnya Allah Azza Wa Jalla yang menakdirkan itu semua dengan izin-Nya.

Mayoritas orang yang melakukan istighotsah dan doa adalah dalam rangka meminta rezeki, keselamatan, kebaikan, atau hajat (keinginan) khusus lainnya.

Di dalam rezeki termasuk kesehatan, keselamatan, harta, makanan, tempat tinggal, hewan tunggangan, pekerjaan atau jabatan, dan segala hal yang dibutuhkan seseorang pada saat ini dan masa mendatang.

Intisari Bahasan

Tawasulmujahadah an nafs dan istighotsah merupakan doa-doa yang kita panjatkan adalah wujud penyerahan diri kepada Allah Azza Wa Jalla atas semua persoalan hidup yang kita hadapi pada saat ini dan masa mendatang.

Yakinlah bahwa doa akan mengubah takdir seseorang dari suatu takdir ke takdir yang lain, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda dalam sebuah hadis;

لا يؤد القدر إلا بالدعاء ولا يزيد العمر إلا البر وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Takdir yang akan menimpa seseorang tidak bisa ditolak kecuali dengan doa, umur seseorang tiada bertambah kecuali dengan melakukan kebaikan, dan rezeki (kebaikan) akan diharamkan kepada seseorang karena dosa yang dilakukannya” (HR. Ibnu Majah dan HR. Tirmidzi)

Bekam Ruqyah Bengkel Manusia Indonesia

Pengobatan Diabetes, Ginjal, dan Jantung | Pengobatan Non Medis (Gangguan Sihir: IBLIS/JIN/SETAN) | #AMAN #NYAMAN #STERIL #PAKAIPISAUBEDAH #ANTIJARUMLANCHET #ANTISILET | Pusat: Town House Anggrek Sari Batam Kepri | Cabang: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi | Tel./SMS/WA (+62) 813-2871-2147 Email: info@terapioksidan.or.id | Melayani Panggilan Antarkota, Dalam & Luar Provinsi, Luar Negeri | Menerima Pasien Rawat Inap dari Dalam & Luar Negeri | Klik: Booking Online | Baca Ulasan: Bekam Jarum Menyelisihi Dalil